
Oleh: Indria Febriansyah, S.E., M.H.Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia inisiator Forum Komunikasi Nasional-08 (FKN-08)
Jakarta, 17 September 2026 – Polemik keaslian ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang kembali memanas belakangan ini, tiba-tiba disisipi tuduhan baru yang sama sekali tidak berdasar adanya dugaan peran Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad di balik kelanjutan kasus Roy Suryo dan kawan-kawan. Tuduhan ini dilontarkan oleh Kanjeng Pangeran Norman Hadinegoro, Ketua Umum DPP Perjuangan Rakyat Nusantara (Pernusa), melalui unggahan media sosial yang menyebutkan: “Dasco bermain di balik kasus Roy Suryo. Hati-hati Dasco, kamu ketahuan.
” Kami menilai tuduhan ini bukan sekadar keliru, melainkan sebuah politik adu domba yang berbau kolonial – taktik kuno yang memecah belah kekuatan bangsa demi kepentingan kelompok tertentu, tepat di saat persatuan sangat dibutuhkan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Faktanya: Dasco Tidak Pernah Membela Roy Suryo Cs Secara Substansial Mari kita jernihkan fakta di ruang publik. Sepanjang perjalanan kasus ini – sejak Roy Suryo, dr. Tifauzia Tyassuma, Rismon Sianipar, dan tujuh pihak lain ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan penyebaran informasi palsu terkait ijazah Jokowi – tidak ada satu pun pernyataan resmi maupun sikap politik yang dikeluarkan oleh Sufmi Dasco Ahmad yang menunjukkan dukungan atau pembelaan terhadap klaim substansial Roy Suryo cs. Yang ada justru sebaliknya Dasco senantiasa menempatkan diri pada koridor hukum dan konstitusi, tanpa memihak pada pihak yang memperkeruh suasana. Bareskrim Polri sendiri telah menyatakan secara resmi setelah pemeriksaan forensik bahwa ijazah Jokowi dinyatakan asli dan memiliki kesesuaian dengan dokumen pembanding, sehingga tidak ditemukan unsur pemalsuan. Universitas Gadjah Mada juga telah berkali-kali menegaskan bahwa Jokowi adalah lulusan resmi Fakultas Kehutanan tahun 1985. Fakta hukum ini sudah jelas, namun tetap ada pihak yang sengaja memperpanjang polemik untuk keuntungan politik.
Sikap Dasco Menurut Indria selalu Menjaga Keseimbangan Demokrasi, Bukan Mengatur Hasil Hukum Jika dikaitkan dengan tuduhan “membela Roy Suryo cs”, maka yang terjadi adalah pemutarbalikan fakta secara nyata. Dasco sebagai Wakil Ketua DPR RI menjaga prinsip keseimbangan demokrasi, bahwa setiap warga negara berhak atas proses hukum yang adil, berhak membela diri di hadapan pengadilan, dan berhak atas perlindungan hukum yang setara. Itu bukan berarti ia membenarkan isi klaim mereka, melainkan menegakkan supremasi hukum secara konsisten. Membedakan antara membela proses hukum dengan membela substansi klaim yang salah adalah hal yang mendasar. Menyeret nama Dasco ke dalam kasus ini tanpa bukti apa pun adalah bentuk fitnah politik yang tidak bertanggung jawab. Apakah karena seseorang tidak ikut serta dalam penindasan, lalu ia dituduh mendukung penentang? Itu bukan logika demokrasi, itu logika penguasa otoriter zaman kolonial “siapa tidak bersama saya, maka melawan saya.”
FKN-08 MENEGASKAN DAN MENJAMIN SUFMI DASCO AHMAD TIDAK AKAN BERMAIN DI WILAYAH POLARISASI BANGSA Ini adalah pernyataan resmi dan tegas dari Forum Komunikasi Nasional-08 (FKN-08) Kami mengetahui secara mendalam jejak rekam, konsistensi, dan komitmen politik Sufmi Dasco Ahmad. Selama ini, beliau adalah salah satu tokoh paling gigih menjaga keutuhan koalisi, merajut perbedaan, dan mencegah bangsa ini terbelah. Kami menjamin dengan penuh tanggung jawab Sufmi Dasco Ahmad TIDAK PERNAH dan TIDAK AKAN pernah bermain di wilayah polarisasi bangsa. Beliau tidak memanfaatkan isu sensitif seperti ini untuk memanaskan ketegangan, apalagi memecah belah rakyat. Tuduhan bahwa beliau “bermain di balik layar” untuk memperpanjang polemik yang memecah belah adalah tuduhan yang salah sasaran, tidak berdasar, dan sengaja dibuat untuk menggerus kepercayaan publik terhadap tokoh pemersatu. Justru sebaliknya – di saat banyak pihak terjebak dalam emosi dan sisi satu sisi, Dasco hadir sebagai penyeimbang yang mencegah negara jatuh ke dalam jurang perpecahan. FKN-08 menegaskan Siapa pun yang menuduh Dasco sebagai tokoh di balik polarisasi, sebenarnya adalah pihak yang sedang melakukan polarisasi itu sendiri. Mereka memakai nama tokoh yang dihormati untuk menutupi niat memecah belah mereka sendiri.
Politik Adu Domba Taktik Lama yang Merusak Persatuan Di saat bangsa ini sedang berjuang keras membangun fondasi kedaulatan ekonomi, swasembada pangan, hilirisasi, dan reformasi struktural di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto – justru muncul upaya sistematis untuk memecah belah elemen-elemen yang seharusnya bersatu. Menjatuhkan Dasco dengan tuduhan tanpa bukti sama artinya dengan melemahkan kekuatan pendukung pemerintahan yang sedang berjuang untuk rakyat. Taktik menuduh tokoh utama berada di balik layar tanpa bukti konkret adalah ciri khas politik adu domba – divide et impera – yang dipraktikkan penjajah untuk menguasai nusantara. Kini, taktik itu dipakai oleh sesama anak bangsa, sungguh ironis dan menyedihkan.
Dasco Tokoh Pemersatu yang Selalu Konsisten
Sufmi Dasco Ahmad selama ini dikenal luas sebagai tokoh yang menjaga keseimbangan, menjaga keutuhan koalisi, dan selalu mengutamakan musyawarah daripada konfrontasi. Ia adalah sosok yang justru bekerja keras menyatukan berbagai elemen bangsa di saat perbedaan pendapat mengancam perpecahan. Menuduhnya sebagai “pemecah belah” adalah hal yang paling bertolak belakang dengan fakta yang kita semua saksikan. FKN-08 menegaskan: Kami menolak segala bentuk politik adu domba, fitnah tanpa bukti, dan narasi yang sengaja dirancang untuk merusak kepercayaan antar-tokoh bangsa. Kasus ijazah Jokowi harus diselesaikan di ruang pengadilan, bukan di ruang publik dengan tuduhan-tuduhan yang mengaburkan fakta. Biarkan proses hukum berjalan, biarkan hakim yang memutuskan – tanpa perlu disisipi tuduhan-tuduhan politis yang tidak berdasar. Penutup Kepada seluruh elemen bangsa, khususnya yang tergabung dalam FKN-08: mari kita waspadai setiap narasi yang bertujuan memecah belah. Jangan mudah terprovokasi oleh tuduhan tanpa bukti. Kekuatan kita ada pada persatuan. Mari kita jaga kebersamaan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, serta dukung tokoh-tokoh seperti Sufmi Dasco Ahmad yang terbukti bekerja keras menyatukan, bukan memecah belah bangsa ini. Kami tegaskan sekali lagi: Sufmi Dasco Ahmad adalah tokoh pemersatu bangsa, bukan pemecah belah. FKN-08 menjamin hal ini dengan penuh tanggung jawab.
Jakarta, 17 September 2026 Indria Febriansyah, S.E., M.H.Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa IndonesiaInisiator Forum Komunikasi Nasional-08 (FKN-08)
