
🇮🇩 NASIONALISME TIDAK BOLEH KALAH OLEH KEPENTINGAN OLIGARKI! 🇮🇩
KAWAN SEPERJUANGAN, SAUDARA SE-TANAH AIR!
Kita boleh kecewa. Kita boleh merasa terlupakan. Bertanyalah dengan jujur: mengapa kita yang dahulu berdiri paling depan, yang berpanas-terik, berhujan-angin, meninggalkan keluarga, pekerjaan, bahkan menabungkan harta dan tenaga demi satu tujuan — Indonesia yang lebih baik — justru kini seakan berdiri di pinggiran, sementara mereka yang tak pernah turun ke jalan kini menikmati hasil perjuangan kita?
Sakit? SANGAT SAKIT!
Namun ingatlah ini: Bukan jabatan yang membuat kita berharga. Melainkan kesetiaan kita pada negeri ini.
Para pahlawan kemerdekaan dulu tak semua hidup cukup untuk melihat bendera Merah Putih berkibar di langit negeri ini. Banyak yang gugur tak pernah tahu nama mereka tercatat di peta sejarah. Tapi mereka tak pernah menanyakan balasan. Karena mereka tahu: perjuangan bukanlah tentang apa yang kita dapatkan, melainkan apa yang kita tinggalkan untuk generasi mendatang.
Jangan biarkan kekecewaan pribadi memadamkan api di dada kita! Jangan biarkan rasa kecewa mengalahkan cinta kita pada Indonesia!
Lihatlah lebih luas, di luar keinginan diri sendiri. Di depan mata kita, kedaulatan bangsa sedang diuji. Kekayaan alam kita belum sepenuhnya milik rakyat kita sendiri. Rakyat masih bekerja keras, namun yang menuai hasil terbesar seringkali bukan mereka yang berkeringat, melainkan mereka yang memegang kekuasaan dan modal besar. Ekonomi kita belum sepenuhnya berdiri di atas kaki sendiri — masih banyak yang menentukan arah kebijakan bukan dari kepentingan rakyat, melainkan dari kepentingan asing dan golongan tertentu.
Inilah medan tempur kita yang sesungguhnya!
Bukan di ruang-ruang kekuasaan. Bukan di deretan nama jabatan. Medan tempur kita adalah di hati rakyat, di ladang dan pasar, di kebijakan yang berpihak pada yang kecil, di tegaknya keadilan tanpa pandang siapa yang kuat dan siapa yang lemah.
Presiden Prabowo Subianto membuka jalan bagi kita semua untuk berbenah. Mari kita maknai itu bukan sebagai pintu mencari kemudahan diri, melainkan sebagai kesempatan emas untuk mengawal agar arah negara ini benar-benar kembali ke jalur konstitusi: Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian.
Kita mendukung beliau bukan karena janji kedudukan. Kita mendukung karena kita percaya pada Indonesia — Indonesia yang kaya raya namun rakyatnya tidak miskin karena ketidakadilan; Indonesia yang terbuka kepada dunia namun tidak pernah menjadi budak kepentingan asing; Indonesia yang Pancasila-nya bukan sekadar tulisan di dinding, melainkan napas yang hidup di setiap kebijakan negara.
Jika hari ini kita belum memiliki kursi di meja pemerintahan, bukan berarti kita tidak memiliki peran. Justru di sinilah letak kemuliaan kita:
Kita adalah kekuatan pengawal yang tak tergadaikan. Suara nurani yang tak bisa dibeli. Tiang penyangga ketika negara terancam menyimpang dari jalan kebenaran.
Jangan pernah menukar idealisme kita dengan kenyamanan sesaat. Jangan pernah diam ketika rakyat tertindas hanya karena kita ingin disukai penguasa. Jadilah pendukung yang setia pada arah yang benar, dan jadilah sahabat yang berani mengingatkan ketika ada yang melenceng.
NASIONALISME BUKANLAH SEMBOYAN DI BENDERA. IA ADALAH KESUNGGUHAN DI DADA.
Ia terlihat ketika kita memilih kepentingan bangsa di atas keuntungan pribadi. Ia terasa ketika kita mendahulukan saudara sebangsa daripada orang asing. Ia nyata ketika kita membela yang lemah meski itu tak menguntungkan diri kita sendiri.
Kawan seperjuangan! Bariskan kita kembali. Tegakkan kepala. Jangan pandang ke samping melihat siapa yang duduk di kursi nyaman. Lihatlah ke depan — ke depan masa depan anak cucu kita. Di sanalah medan pertempuran kita yang sebenarnya menanti.
Kritiklah dengan tulus. Dukunglah dengan bijak. Kawal setiap langkah negara. Pertahankan kemerdekaan yang sudah ada — karena kemerdekaan bukanlah sekali jadi, ia harus dijaga setiap hari, oleh kita semua.
INDONESIA TIDAK PERLU PARA PENJABAT SAJA. IA MASIH SANGAT MEMBUTUHKAN PARA PEJUANG — YANG TETAP SETIA MESKI TAK DIINGAT, YANG TETAP BERJUANG MESKI TAK DIBAYAR, YANG TETAP MENCINTAI MESKI TERLUPAKAN!
🇮🇩 MERDEKA ATAU MATI UNTUK INDONESIA KITA! 🇮🇩
NASIONALISME TIDAK AKAN PERNAH KALAH!
RAKYAT ADALAH TUAN DARI NEGERI INI!
🇮🇩 BERSATU DALAM CITA-CITA, BERJUANG UNTUK RAKYAT! 🇮🇩
Indria Febriansyah, S.E., M.H.
Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia (KSTI)
Inisiator Forum Komunikasi Nasional-08 (FKN-08)
