
TAK ADA HUJAN BULAN JUNI
Oleh : Indria Febriansyah
Bunga menunduk di tepi trotoar,
kelopak seperti surat yang belum sampai.
Juni duduk di ubun-ubun kota,
menunggu rintik yang tak kunjung turun.
Di langit, awan berkumpul seperti rangkap janji,
tetapi tangannya kosong hanya bisik kabar,
kata-kata tentang pengkhianat yang harus diburu,
sehingga payung negara tetap tertutup rapat.
Setiap bulir hujan yang seharusnya jatuh
menjadi ingatan kecil tentang kesejukan,
tentang daun yang bernapas lega,
tentang anak yang tak lagi takut pulang basah.
Namun malam ini, bulir itu ragu
mereka tahu jalan turun bisa tergesek oleh amarah,
oleh telunjuk yang menuding ke dalam negeri sendiri,
oleh sidang-sidang kata yang mengorek luka lama.
Bunga-bunga menahan harum mereka seperti naskah,
mengunci kabar baik dalam kelopak rapuh.
Kota mendengus, berharap ada perubahan,
tapi perbaikan terulur seperti awan yang melintas.
Juni bergetar, bukan karena hujan,
melainkan karena nama-nama yang bergema di sidang,
karena negeri yang sibuk membersihkan dindingnya sendiri
hingga lupa mengecat rumah-rumah warga.
Di setiap bulir yang tidak jatuh,
tersimpan janji-janji kecil tentang ketenangan.
Kita menunggu, bukan hanya untuk hujan,
tetapi untuk bukti bahwa yang dikejar adalah kebaikan bersama.
Bunga tetap membuka kelopaknya perlahan,
menghadirkan keindahan yang tak mau padam.
Meski hujan tertahan, kesejukan ada di harapan
bahwa suatu hari, bulir-bulir itu turun…
adil dan memberi hayat.
