Menjaga Etika Demokrasi, Loyalitas Perguruan, dan Ancaman Disinformasi.
Oleh: Indria Febriansyah, S.E., M.H. (Pengamat Politik dan Analis Kebijakan Publik, Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia, Mantan Aktivis Mahasiswa dan Pendiri Forum BEM DIY)
Demokrasi di Persimpangan Etika dan Teknologi
Polemik yang menyeret nama Amien Rais dan Teddy Indra Wijaya bukan sekadar isu personal atau konflik persepsi publik. Ia adalah cermin dari kondisi demokrasi kita hari ini yang sedang diuji oleh dua hal sekaligus pertama krisis etika komunikasi politik, dan kedua ancaman nyata dari disinformasi berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI).
Sebagai bangsa yang pernah melewati fase penting seperti Reformasi 1998, kita semestinya memiliki kedewasaan dalam menyikapi perbedaan pendapat. Namun yang terjadi justru sebaliknya, ruang publik dipenuhi oleh narasi yang tidak selalu berbasis fakta, bahkan cenderung menyerang aspek personal yang tidak relevan dengan kepentingan publik.
Dalam konteks ini, perlu adanya pelurusan perspektif tidak hanya secara politik, tetapi juga secara kultural dan ideologis, khususnya dari sudut pandang generasi muda Tamansiswa sebagai gerakan pendidikan nasional.
Kritik yang Kehilangan Objektivitas
Demokrasi memang memberikan ruang seluas-luasnya bagi kritik. Namun kritik yang sehat harus berbasis data, rasionalitas, dan etika. Jika benar pernyataan yang beredar berasal dari Amien Rais, maka sangat disayangkan apabila kritik tersebut justru mengarah pada subjektivitas dan membuka ruang spekulasi yang tidak produktif.
Sebagai tokoh yang lahir dari rahim gerakan sipil, Amien Rais seharusnya menjadi teladan dalam menjaga kualitas diskursus publik. Kritik terhadap individu seperti Teddy Indra Wijaya semestinya diarahkan pada aspek profesionalitas, kapasitas, dan kontribusinya terhadap negara bukan pada isu-isu yang berpotensi menjadi character assassination.
Sebaliknya, jika benar video tersebut merupakan hasil rekayasa AI, maka persoalannya jauh lebih serius. Kita tidak lagi berbicara tentang perbedaan pendapat, melainkan tentang sabotase terhadap demokrasi. Disinformasi berbasis AI bukan hanya merusak reputasi individu, tetapi juga menggerus kepercayaan publik terhadap sistem secara keseluruhan.
Negara tidak boleh abai. Penegakan hukum harus tegas. Siapapun aktor di balik produksi dan distribusi konten manipulatif tersebut harus diproses secara hukum untuk menjaga marwah demokrasi.
Belajar dari Tradisi Loyalitas dalam Perspektif Syiar
Dalam tradisi Islam di Nusantara, kita mengenal keteladanan Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus di kawasan Masjid Keramat Luar Batang. Wasiat beliau yang menyatakan bahwa ziarah tidak sempurna tanpa menziarahi makam murid setianya, Haji Abdul Kadir, adalah simbol kuat tentang makna loyalitas, penghormatan, dan keterikatan emosional dalam perjuangan.
Nilai ini tidak hanya relevan dalam konteks dakwah, tetapi juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap perjuangan baik sosial, politik, maupun keagamaan selalu melibatkan relasi kepercayaan yang dibangun dalam waktu panjang. Loyalitas bukanlah kelemahan, melainkan fondasi dari konsistensi perjuangan.
Dalam konteks ini, kritik terhadap kedekatan emosional antara individu dalam lingkaran kekuasaan harus ditempatkan secara proporsional. Kedekatan tersebut adalah sesuatu yang wajar, selama tidak melanggar prinsip profesionalitas dan meritokrasi.
Tamansiswa dan Taruna Nusantara Satu Akar, Satu Tanggung Jawab
Sebagai bagian dari Alumni keluarga besar Tamansiswa, saya perlu menegaskan alumni SMA Taruna Nusantara adalah bagian dari satu rahim perguruan yang sama dengan Tamansiswa. Secara historis, Taruna Nusantara lahir dari kolaborasi antara TNI (saat itu ABRI) dan nilai-nilai pendidikan Tamansiswa yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara. Filosofi “ABRI sebagai Bapak, Tamansiswa sebagai Ibu” bukan sekadar slogan, tetapi representasi dari sintesis antara kedisiplinan militer dan kebudayaan nasional.
Dengan demikian, mendukung alumni Taruna Nusantara bukanlah bentuk nepotisme, melainkan bagian dari tanggung jawab ideologis sebagai warga Tamansiswa. Ini adalah manifestasi dari ajaran Perguruan Tamansiswa:
Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan)
Ing madya mangun karso (di tengah membangun semangat)
Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan)
Ketika ada upaya untuk mendiskreditkan alumni Taruna Nusantara tanpa dasar yang jelas, maka kami selaku warga Tamansiswa memiliki kewajiban moral untuk memberikan klarifikasi dan pembelaan yang objektif. Bukan untuk membenarkan segala hal, tetapi untuk menjaga marwah ketamansiswaan dan nilai-nilai yang diwariskan.
Hoaks AI Merupakan Ancaman Baru dalam Politik Modern
Fenomena hoaks berbasis AI adalah tantangan baru yang tidak bisa dianggap remeh. Teknologi ini mampu memproduksi narasi yang tampak autentik, tetapi sebenarnya manipulatif. Dalam konteks politik, hal ini bisa digunakan untuk menjatuhkan lawan, menciptakan polarisasi, bahkan mengganggu stabilitas nasional.Jika praktik ini tidak segera diantisipasi, maka demokrasi kita akan bergerak menuju era post-truth, di mana kebenaran tidak lagi ditentukan oleh fakta, melainkan oleh persepsi yang dibentuk secara artifisial. Oleh karena itu, diperlukan langkah:
1. Penegakan hukum terhadap pelaku disinformasi digital
2. Peningkatan literasi digital di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda
3. Kolaborasi antara negara, akademisi, dan masyarakat sipil dalam memverifikasi informasi
4. Penguatan etika komunikasi publik, terutama bagi tokoh-tokoh nasional
Menjaga Keseimbangan Antara Loyalitas dan Profesionalitas
Loyalitas tidak boleh bertentangan dengan prinsip profesionalitas. Negara tetap harus berjalan di atas sistem meritokrasi. Namun dalam praktiknya, kepercayaan personal tetap menjadi faktor penting dalam membangun tim yang solid. Di sinilah keseimbangan harus dijaga. Loyalitas menjadi kekuatan ketika ia berjalan bersama integritas dan kapasitas. Sebaliknya, ia menjadi masalah ketika digunakan untuk menutupi ketidakmampuan atau pelanggaran.
Dalam kasus Teddy Indra Wijaya, penilaian publik seharusnya didasarkan pada rekam jejak dan kontribusinya, bukan pada narasi yang belum tentu benar.
Demokrasi yang Beretika dan Berbasis Nilai
Polemik ini menjadi momentum refleksi bagi kita semua. Demokrasi tidak cukup hanya dijalankan secara prosedural, tetapi juga harus dijaga secara etis dan substansial. Kita membutuhkan ruang publik yang sehat yang diisi oleh kritik yang konstruktif, bukan oleh fitnah tapi oleh data, bukan oleh manipulasi tapi oleh nilai, Juga bukan oleh kepentingan sesaat.
Sebagai bangsa yang memiliki akar budaya kuat, kita tidak boleh kehilangan arah. Nilai-nilai seperti loyalitas, penghormatan, dan kepercayaan harus tetap menjadi fondasi dalam kehidupan berbangsa. Dan bagi kami, warga Tamansiswa, mendukung alumni Taruna Nusantara adalah bagian dari menjaga kesinambungan nilai tersebut bukan sebagai bentuk keberpihakan buta, tetapi sebagai tanggung jawab historis dan ideologis. Jika demokrasi ingin tetap bermartabat, maka kebenaran harus dijaga, etika harus ditegakkan, dan solidaritas harus diarahkan untuk kepentingan bangsa bukan untuk memperdalam perpecahan. Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kebebasan. Indonesia membutuhkan kebijaksanaan.
