Komitmen pemerintah dalam mendorong transformasi ekonomi nasional kembali ditegaskan oleh Presiden Prabowo Subianto melalui peresmian pembangunan 13 proyek hilirisasi strategis di berbagai sektor. Agenda ini bukan sekadar seremoni pembangunan, melainkan penanda arah baru kebijakan ekonomi Indonesia yang berorientasi pada nilai tambah, kemandirian industri, serta penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyampaikan pesan tegas kepada seluruh jajaran pemerintahan dan tim pelaksana proyek hilirisasi: siapa pun yang tidak bekerja untuk kepentingan rakyat, dipersilakan untuk keluar dari barisan. Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa era kerja setengah hati dan birokrasi lamban tidak lagi memiliki tempat dalam pemerintahan yang tengah berpacu dengan waktu untuk mengejar ketertinggalan. Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia, Indria Febriansyah, menyampaikan bahwa pidato Presiden Prabowo merupakan refleksi dari kepemimpinan yang tegas, progresif, dan berorientasi pada hasil nyata. Menurutnya, arah kebijakan hilirisasi yang dibangun saat ini tidak hanya akan memperkuat ekonomi nasional, tetapi juga membuka peluang besar bagi peningkatan kesejahteraan rakyat secara luas.
“Rakyat Indonesia hari ini berada dalam satu barisan bersama Presiden Prabowo. Kita tidak hanya bicara tentang pembangunan proyek, tetapi tentang membangun masa depan bangsa. Indonesia memiliki semua syarat untuk menjadi negara besar sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, serta posisi geopolitik yang strategis. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berubah dan kepemimpinan yang mampu menggerakkan seluruh potensi tersebut,” ujar Indria.
Lebih lanjut, Indria menyoroti penekanan Presiden Prabowo terhadap pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Dalam pidatonya, Presiden menegaskan bahwa meskipun suatu proyek telah melalui studi kelayakan (feasibility study), seluruh pihak tetap harus terbuka terhadap perubahan apabila ditemukan teknologi baru yang lebih efisien. Bagi Indria, hal ini merupakan pendekatan yang sangat relevan dalam era disrupsi global.
“Pesan Presiden sangat jelas jangan terjebak pada cara-cara lama. Dunia bergerak cepat, dan kita tidak boleh tertinggal. Jika ada teknologi yang lebih efisien, maka kita harus berani berubah. Efisiensi bukan hanya soal keuntungan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana manfaat sebesar-besarnya bisa dirasakan oleh rakyat,” tegasnya.
Menurut Indria, hilirisasi bukan sekadar kebijakan ekonomi, melainkan strategi geopolitik jangka panjang. Dengan memperkuat industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, Indonesia dapat meningkatkan daya tawar di tingkat global. Hal ini akan berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ia juga menilai bahwa langkah Presiden Prabowo untuk mempercepat hilirisasi merupakan kelanjutan sekaligus penguatan dari agenda industrialisasi nasional yang selama ini telah dicanangkan. Namun, yang membedakan saat ini adalah adanya dorongan kuat untuk memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar berdampak langsung pada rakyat.
“Presiden tidak ingin pembangunan hanya berhenti pada angka-angka makro. Yang beliau dorong adalah bagaimana setiap kebijakan bisa dirasakan oleh rakyat di tingkat bawah. Ini adalah pendekatan yang sangat penting, karena legitimasi pembangunan sejatinya terletak pada manfaat nyata yang dirasakan masyarakat,” kata Indria.
Dalam konteks tersebut, Indria mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut berperan aktif dalam mendukung agenda hilirisasi nasional. Ia menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada partisipasi masyarakat, dunia usaha, serta kalangan akademisi.
“Ini adalah momentum kebangkitan nasional. Kita tidak boleh terpecah oleh kepentingan sempit. Rakyat harus bersatu, mendukung kebijakan yang pro terhadap masa depan bangsa. Hilirisasi adalah jalan menuju kemandirian ekonomi, dan kita semua memiliki tanggung jawab untuk mengawal serta menyukseskannya,” ujarnya.
Salah satu bagian paling menarik dari pidato Presiden Prabowo, menurut Indria, adalah ungkapan reflektif yang menggambarkan harapan besar terhadap masa depan Indonesia. Presiden menyampaikan keinginannya untuk “hidup seribu tahun lagi” guna menyaksikan Indonesia benar-benar bangkit menjadi raksasa dunia. Bagi Indria, pernyataan tersebut bukan sekadar metafora, tetapi cerminan dari visi besar yang ingin diwujudkan.
“Itu adalah ungkapan yang sangat kuat. Presiden tidak hanya berbicara sebagai kepala negara, tetapi sebagai seorang pemimpin yang memiliki mimpi besar untuk bangsanya. Kita semua tentu tidak bisa hidup seribu tahun, tetapi kita bisa memastikan bahwa langkah-langkah yang kita ambil hari ini akan menentukan masa depan Indonesia,” jelasnya.
Indria menilai bahwa visi Indonesia sebagai “raksasa yang bangun” bukanlah sesuatu yang utopis. Dengan strategi yang tepat, konsistensi kebijakan, serta dukungan penuh dari rakyat, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia. Ia menekankan bahwa kunci utama dari semua itu adalah keberanian untuk melakukan perubahan serta komitmen untuk terus belajar dan beradaptasi. Di sisi lain, ia juga mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidaklah ringan. Persaingan global yang semakin ketat, dinamika geopolitik, serta perubahan teknologi yang cepat menuntut Indonesia untuk selalu waspada dan siap berinovasi. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah dan rakyat menjadi sangat penting.
“Presiden sudah memberikan arah yang jelas. Sekarang tugas kita bersama adalah memastikan bahwa arah tersebut dapat diwujudkan. Rakyat harus menjadi bagian dari solusi, bukan hanya penonton. Dengan kebersamaan, saya yakin Indonesia akan mampu bangkit dan berdiri sejajar dengan negara-negara besar lainnya,” tegas Indria.
Menutup pernyataannya, Indria kembali menegaskan bahwa momentum hilirisasi harus dimanfaatkan secara maksimal sebagai titik balik kebangkitan ekonomi nasional. Ia optimistis bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, Indonesia akan mampu melompat lebih jauh dan menjadi kekuatan besar di dunia.
“Rakyat bersama Presiden Prabowo. Ini bukan hanya slogan, tetapi komitmen bersama. Kita ingin melihat Indonesia bangkit, berdiri tegak sebagai raksasa yang besar. Dan itu bukan mimpi, tetapi tujuan yang bisa kita capai bersama,” pungkasnya.
