
Tamansiswa Meneguhkan Arah Indonesia
Pendopo Agung Tamansiswa kembali menjadi ruang dialektika kebangsaan. Bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi ruang ideologis tempat nilai-nilai kemerdekaan diuji, dirawat, dan diteguhkan kembali.
Dalam situasi bangsa yang tengah menghadapi krisis keteladanan, ketimpangan sosial, serta pudarnya nilai kebangsaan, Tamansiswa memanggil kembali anak-anak ideologisnya untuk hadir dan mengambil peran. Sebab pendidikan, sebagaimana diajarkan Ki Hadjar Dewantara, tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi harus melahirkan kesadaran dan keberpihakan.
Melalui Orasi Kebangsaan dan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Ketua MPR RI H. Akhmad Muzani hadir menyampaikan refleksi kebangsaan tentang arah Indonesia ke depan sebagai negara yang berdaulat secara politik, adil secara sosial, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Empat Pilar kehidupan berbangsa dan bernegara Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika ditegaskan bukan sebagai slogan atau hafalan seremonial, melainkan sebagai nilai hidup yang harus bekerja nyata di tengah rakyat. Nilai-nilai tersebut hanya akan bermakna apabila berpihak pada keadilan sosial, melindungi kelompok rentan, dan menjamin martabat manusia Indonesia.
Bagi kalangan pergerakan, Orasi Kebangsaan ini bukan sekadar forum resmi kenegaraan, melainkan ruang pertanggungjawaban moral antara negara dan rakyat. Di sinilah negara diuji sejauh mana keberpihakannya, sejauh mana keberaniannya menegakkan nilai dasar bangsa di tengah tekanan kepentingan ekonomi dan kekuasaan.
Bagi alumni Tamansiswa, kehadiran dalam forum ini bukanlah nostalgia sejarah, melainkan pernyataan sikap. Bahwa warisan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tidak boleh berhenti sebagai simbol, tetapi harus hidup dalam praksis dalam keberanian bersuara, berpihak, dan bergerak.Dari Pendopo Agung Tamansiswa, Orasi Kebangsaan ini menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, tetapi oleh kesetiaan pada nilai dan keberanian membela rakyat. Tamansiswa kembali menegaskan perannya sebagai penjaga nurani bangsa dan rumah bagi kesadaran kebangsaan yang terus bergerak.
Tamansiswa memanggil.
Indonesia menunggu kerja nyata.
