Pernyataan Saiful Mujani Disorot, Indria Febriansyah: Narasi Subjektif dan Berpotensi Memecah Kepercayaan Publik
Jakarta (24/4/26)– Pernyataan Saiful Mujani dalam sebuah tayangan video yang beredar luas di media sosial menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan. Dalam video tersebut, Saiful Mujani menyampaikan pernyataan bahwa apabila suatu saat dirinya meninggal secara tidak wajar, maka ia menduga hal tersebut disebabkan oleh tindakan peracunan oleh tentara. Pernyataan ini dinilai kontroversial dan memantik beragam reaksi, terutama dari tokoh masyarakat dan aktivis.
Salah satu tanggapan keras datang dari Indria Febriansyah, mantan aktivis mahasiswa sekaligus pendiri Forum Badan Eksekutif Mahasiswa Daerah Istimewa Yogyakarta (BEM DIY). Indria menyayangkan pernyataan tersebut, terutama karena dilontarkan oleh seorang intelektual yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan reputasi akademik yang kuat. Menurut Indria, pernyataan Saiful Mujani tersebut tidak hanya bersifat subjektif, tetapi juga berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap institusi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ia menilai narasi yang dibangun dalam pernyataan tersebut dapat mengarah pada pembentukan opini publik yang tidak proporsional, bahkan cenderung menebar ketidakpercayaan terhadap aparat negara.
“Pernyataan itu sangat disayangkan. Sebagai seorang intelektual, seharusnya beliau menyampaikan pandangan berdasarkan data dan analisis objektif, bukan asumsi yang berpotensi menimbulkan kebencian terhadap institusi tertentu,” ujar Indria dalam keterangannya. Lebih lanjut, Indria menegaskan bahwa dalam sistem pendidikan militer, tentara dididik untuk mempertahankan kedaulatan negara, menjaga keamanan nasional, serta melindungi rakyat Indonesia. Ia menolak keras anggapan bahwa tentara dididik untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap warga sipil, apalagi dalam bentuk pembunuhan.
“Dalam doktrin dan pendidikan militer, tentara dididik untuk bertarung melawan ancaman terhadap negara, bukan untuk menyakiti rakyatnya sendiri. Mereka adalah tameng bangsa, bukan ancaman bagi masyarakat,” tegasnya. Indria juga mengaitkan pernyataan tersebut dengan narasi yang lebih luas terkait pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai bahwa pernyataan Saiful Mujani secara tidak langsung membangun citra bahwa pemerintahan saat ini bersifat otoriter dan identik dengan arogansi militer, sesuatu yang menurutnya tidak sesuai dengan realitas kebijakan yang sedang berjalan.
Dalam pandangan Indria, pemerintahan Prabowo Subianto justru menunjukkan keberpihakan yang kuat terhadap masyarakat kecil, terutama kelompok menengah ke bawah. Ia menyebut sejumlah program dan kebijakan yang dianggap sebagai bukti konkret orientasi kerakyatan tersebut. “Kalau kita lihat secara objektif, pemerintahan saat ini justru fokus pada rakyat kecil. Penguasaan sumber daya yang selama puluhan tahun berada di tangan kelompok tertentu mulai dikembalikan untuk kepentingan nasional. Ini bukan narasi, tapi kebijakan nyata,” jelasnya. Ia mencontohkan upaya pemerintah dalam menata kembali sektor sumber daya alam, termasuk menghentikan izin eksplorasi yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Selain itu, pemerintah juga disebut memprioritaskan pembangunan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), sebagai bagian dari strategi pemerataan pembangunan nasional. Tak hanya itu, Indria juga menyoroti program pendidikan bagi masyarakat miskin ekstrem melalui inisiatif “sekolah rakyat”, yang bertujuan memberikan akses pendidikan yang lebih luas bagi kelompok yang selama ini terpinggirkan. Program pemberian makanan bergizi bagi anak-anak Indonesia, yang dikenal sebagai program Makan Bergizi Gratis (MBG), juga disebut sebagai langkah konkret dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.
“Pemerintah juga fokus pada penyediaan rumah bagi rakyat kecil dengan membentuk prioritas khusus dalam kabinet. Ini menunjukkan bahwa orientasi pembangunan tidak hanya pada infrastruktur besar, tetapi juga pada kebutuhan dasar masyarakat,” tambahnya.
Dalam sektor pertanian, Indria menilai bahwa penataan dari hulu hingga hilir telah memberikan dampak signifikan, termasuk dalam meningkatkan produksi pangan nasional. Ia bahkan menyebut bahwa Indonesia berada dalam kondisi surplus bahan pangan sebagai hasil dari kebijakan yang terintegrasi. Selain itu, ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global juga menjadi salah satu indikator keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas nasional. Menurut Indria, semua capaian ini menjadi alasan mengapa masyarakat, khususnya dari kalangan bawah, menunjukkan dukungan yang kuat terhadap kepemimpinan Prabowo Subianto.
Berdasarkan hal tersebut, Indria berpendapat bahwa asumsi Saiful Mujani yang secara langsung mengaitkan kemungkinan ancaman terhadap dirinya dengan institusi tentara menjadi tidak relevan. Ia menilai bahwa narasi tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dan cenderung mengabaikan konteks sosial-politik yang lebih luas.
“Jika ada ancaman terhadap seseorang, tentu harus dilihat secara objektif dan berdasarkan fakta. Tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa pelakunya adalah tentara. Itu justru bisa menyesatkan opini publik,” ujarnya. Lebih jauh, Indria mengingatkan bahwa pernyataan-pernyataan yang tidak berbasis data dan cenderung spekulatif dapat berpotensi menciptakan polarisasi di tengah masyarakat. Ia mengajak semua pihak, terutama tokoh publik dan intelektual, untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pandangan, mengingat pengaruh besar yang dimiliki terhadap pembentukan opini publik.
“Tokoh publik punya tanggung jawab moral untuk menjaga narasi yang sehat di ruang publik. Jangan sampai pernyataan yang disampaikan justru memperkeruh suasana dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara,” katanya. Di tengah dinamika politik nasional yang terus berkembang, Indria menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan kepercayaan publik terhadap lembaga negara. Ia menilai bahwa kritik terhadap pemerintah atau institusi negara tetap diperlukan dalam sistem demokrasi, namun harus disampaikan secara konstruktif dan berbasis fakta. “Demokrasi butuh kritik, tapi kritik yang membangun, bukan yang menebar kecurigaan tanpa dasar. Kita semua punya tanggung jawab untuk menjaga persatuan dan kepercayaan publik,” tutup Indria.
Hingga saat ini, belum ada klarifikasi resmi dari Saiful Mujani terkait pernyataan dalam video yang beredar tersebut. Namun demikian, polemik yang muncul menunjukkan betapa pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan opini di ruang publik, terutama bagi tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi masyarakat. Perdebatan ini juga mencerminkan dinamika demokrasi Indonesia yang semakin terbuka, di mana berbagai pandangan dapat disampaikan secara bebas, namun tetap memerlukan tanggung jawab dalam penyampaiannya.
