
Kami bukan siapa-siapa.
Kami bukan pejabat.
Kami bukan elite.
Kami hanya relawan.
Relawan yang datang dengan satu hal: loyalitas tanpa syarat.
Kami adalah bagian dari Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia, yang berdiri di barisan depan saat perjuangan belum tentu menang.
Kami masuk ke Rumah Relawan Prabowo.
Strukturnya jelas. Namanya besar.
Dipimpin oleh Harus Rusli Moti, diisi oleh Faudzi Fadilah, Wendri, dan Ricky Tamba.
Bertanggung jawab kepada Sufmi Dasco Ahmad.
Semua terlihat rapi. Terlihat meyakinkan.
Lalu datang Maret 2025.
Kami dipanggil.
Kami diajak bicara.
Kami diberi harapan.
Bukan harapan kecil.
Kami dijanjikan menjadi KOMISARIS.
Langsung.
Jelas.
Tanpa ragu.
Disampaikan oleh mereka yang punya posisi.
Bukan isu. Bukan gosip.
Kami pulang dengan keyakinan:
ternyata perjuangan kami dilihat.
LALU APA YANG TERJADI?
Tidak ada pelantikan.
Tidak ada kejelasan.
Tidak ada kabar.
Yang ada hanya: diam.
1 bulan…
3 bulan…
6 bulan…
1 tahun…
Hari ini: 7 Mei 2026.
Kami masih di titik yang sama.
Menunggu sesuatu yang pernah dijanjikan tapi tidak pernah ditepati.
PERTANYAANNYA SEKARANG:
Apakah relawan hanya dibutuhkan saat dibutuhkan?
Apakah janji boleh diucapkan tanpa tanggung jawab?
Apakah kami hanya alat yang dipakai saat perjuangan, lalu dilupakan setelahnya?
Kami tidak menuntut jabatan.
Kami menuntut KEJELASAN.
Kalau memang tidak jadi katakan.
Kalau memang batal jelaskan.
Kalau memang tidak pernah serius akui.
Jangan gantungkan kami dalam ketidakpastian lebih dari satu tahun.
Kami ini relawan.
Kami mungkin kecil.
Tapi ingat
perjuangan besar tidak pernah lahir dari orang besar saja.
Ia lahir dari orang-orang kecil yang setia.
Dan ketika orang kecil mulai bersuara,
itu bukan karena mereka kuat
tapi karena mereka sudah terlalu lama diabaikan.
Kami tidak akan diam selamanya.
Hari ini kami menulis.
Besok, publik yang akan menilai.
