
Opini: Indria Febriansyah, Aktivis Pendiri Forum BEM DIY
Gelombang peristiwa yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir bukanlah sekadar dinamika biasa dalam kehidupan demokrasi. Ia bukan hanya tentang demonstrasi yang berujung ricuh di satu titik, atau gesekan antara aparat dan massa di tempat lain. Jika dilihat secara parsial, mungkin tampak seperti kejadian yang berdiri sendiri. Namun jika dirangkai dalam satu garis analisis yang utuh, pola itu mulai terlihat jelas ada titik-titik api yang sedang disulut, perlahan tapi pasti, menuju satu kondisi yang lebih besar instabilitas nasional.
Peristiwa di Yogyakarta pada 24 Februari 2026 dan kejadian di Kalimantan Timur yang bertepatan dengan Hari Kartini bukanlah kebetulan. Ini adalah dua fragmen dari satu desain besar. Sebuah desain yang tidak bekerja secara spontan, melainkan terstruktur, terukur, dan memanfaatkan momentum dengan presisi tinggi. Mereka yang memahami dinamika sosial-politik Indonesia tentu tahu, bahwa momentum adalah segalanya. Dan saat ini, momentum sedang dimainkan dengan sangat cermat.
Aksi di Yogyakarta dapat dibaca sebagai fase “pemanasan”. Sebuah uji coba untuk mengukur respons publik, aparat, dan media. Seberapa cepat isu bisa menyebar, seberapa besar emosi massa bisa dipantik, dan seberapa jauh narasi bisa digiring. Ini adalah laboratorium sosial dalam skala kecil. Dan hasilnya, tampaknya cukup memuaskan bagi mereka yang berada di balik layar. Kemudian, kita melihat eskalasi di Kalimantan Timur. Momentum Hari Kartini dipilih bukan tanpa alasan. Hari yang secara simbolik merepresentasikan perjuangan, emansipasi, dan keberanian perempuan ini justru dimanfaatkan untuk membungkus sebuah aksi yang berpotensi mengarah pada konflik. Ini bukan sekadar ironi, tetapi strategi. Menggunakan simbol-simbol nasional untuk membangun legitimasi emosional di tengah masyarakat.
Di sinilah kita harus mulai waspada. Karena pola ini bukan hal baru. Ini adalah pengulangan dari skenario yang pernah terjadi sebelumnya. Tahun 2025 telah memberikan kita pelajaran berharga. Titik api disulut dari daerah, isu diperbesar, emosi dipompa, lalu diarahkan menuju pusat kekuasaan. Bedanya hari ini, aktor-aktor di belakangnya tampak lebih rapi, lebih terkoordinasi, dan memiliki sumber daya yang jauh lebih besar.
Siapa mereka?
Mereka bukan satu entitas tunggal. Mereka adalah titik temu dari berbagai kepentingan. Kepentingan asing yang tidak menginginkan Indonesia berdiri tegak sebagai kekuatan mandiri. Mafia ekonomi yang terusik oleh kebijakan pemerintah yang mulai menata ulang distribusi sumber daya. Dan kelompok-kelompok domestik yang kehilangan akses kekuasaan, lalu memilih jalan instabilitas sebagai alat negosiasi. Mereka tidak bergerak secara terbuka. Mereka bekerja melalui narasi. Melalui opini. Melalui ruang-ruang digital yang hari ini menjadi medan tempur utama. Serangan hoaks, disinformasi, dan framing negatif terhadap pemerintah bukanlah sesuatu yang terjadi secara organik. Ia dirancang, diproduksi, dan didistribusikan dengan sistematis. Isu yang diangkat pun bukan isu sembarangan. Mereka memilih isu yang paling mudah diterima oleh rakyat. Kesewenang-wenangan pemerintah. Otoritarianisme. Militerisme. Bahkan narasi “kembalinya Orde Baru” kembali dihidupkan. Ini adalah isu-isu emosional yang memiliki daya ledak tinggi. Tidak perlu benar sepenuhnya cukup masuk akal dan terus diulang.
Dan di sinilah letak bahayanya.
Karena ketika opini publik mulai terbentuk, realitas tidak lagi menjadi faktor utama. Persepsi menjadi kebenaran baru. Dan ketika persepsi kolektif sudah terbangun, maka menggerakkan massa hanyalah soal waktu. Momentum berikutnya sudah di depan mata 1 Mei, Hari Buruh Internasional. May Day bukan sekadar peringatan, tetapi tradisi turun ke jalan. Ini adalah ruang legitimasi yang sah bagi mobilisasi massa. Dan para perancang instabilitas ini sangat memahami hal tersebut. Mereka tidak perlu menciptakan aksi mereka hanya perlu menungganginya. Buruh akan turun ke jalan. Mahasiswa, baik intra maupun ekstra kampus, akan ikut bergerak. Ini adalah siklus tahunan. Namun dalam konteks hari ini, siklus tersebut berpotensi menjadi kendaraan bagi agenda yang lebih besar. Aksi damai bisa dengan mudah berubah menjadi kerusuhan jika ada provokasi yang terencana. Dan provokasi itu hampir pasti akan terjadi. Karena tujuan utama dari semua ini bukan sekadar demonstrasi. Tujuan akhirnya adalah menciptakan ketidakstabilan. Membuat publik percaya bahwa negara sedang tidak baik-baik saja. Bahwa pemerintah tidak mampu mengendalikan situasi. Bahwa kekacauan adalah bukti kegagalan kepemimpinan.Jika narasi ini berhasil, maka langkah berikutnya akan lebih mudah delegitimasi.
Ketika kepercayaan publik runtuh, maka apapun kebijakan pemerintah akan ditolak. Apapun langkah perbaikan akan dicurigai. Dan di titik itulah, ruang untuk intervensi baik dari dalam maupun luar negeri akan terbuka lebar.
Penulis melihat bahwa pergerakan ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Justru sebaliknya, ia akan terus bergulir, memanfaatkan setiap momentum yang ada hingga setidaknya bulan September. Kita akan melihat pola yang sama isu muncul, aksi terjadi, konflik kecil terjadi, lalu dibesar-besarkan di media sosial. Puncaknya Kemungkinan besar akan terjadi ketika ada korban jiwa.
Sejarah mengajarkan kita bahwa tidak ada bahan bakar yang lebih kuat daripada darah. Satu korban bisa menjadi simbol. Dua korban bisa menjadi narasi. Dan lebih dari itu, bisa menjadi pemicu ledakan sosial yang sulit dikendalikan. Inilah yang harus dicegah. Pemerintah tentu tidak boleh lengah. Informasi semacam ini hampir pasti sudah sampai ke telinga para pengambil kebijakan. Namun tantangannya bukan hanya pada level elite. Tantangan terbesar justru ada di masyarakat. Karena sebesar apapun kekuatan propaganda, ia tidak akan berhasil tanpa adanya penerimaan dari publik. Dan di sinilah peran kita semua menjadi penting. Masyarakat Indonesia harus mulai meningkatkan kewaspadaan. Jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya. Jangan langsung bereaksi terhadap narasi yang memancing emosi. Dan yang paling penting, jangan sampai kita menjadi bagian dari penyebaran propaganda itu sendiri.
Kita harus sadar bahwa hari ini kita sedang berada dalam fase “berbenah”. Dan berbenah adalah proses yang tidak mudah. Ia melelahkan. Ia penuh tantangan. Dan seringkali hasilnya tidak bisa langsung dirasakan. Namun justru di titik itulah kesabaran diuji. Negara ini sedang memperbaiki banyak hal. Dari sistem ekonomi, tata kelola pemerintahan, hingga distribusi kesejahteraan. Perubahan besar tidak pernah terjadi dalam semalam. Ia membutuhkan waktu, tenaga, dan dukungan dari seluruh elemen bangsa.Jika dalam proses itu kita justru terpecah, saling curiga, dan mudah terprovokasi, maka yang diuntungkan bukanlah rakyat. Yang diuntungkan adalah mereka yang sejak awal menginginkan Indonesia tetap lemah dan mudah dikendalikan.
Penulis tidak mengatakan bahwa pemerintah tidak boleh dikritik. Kritik adalah bagian dari demokrasi. Namun kritik yang sehat adalah kritik yang berbasis data, bukan emosi. Kritik yang membangun, bukan yang menghancurkan. Perbedaan ini harus kita jaga. Karena garis antara kritik dan propaganda hari ini semakin tipis.
Akhirnya, penulis ingin mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk kembali pada kesadaran kolektif sebagai bangsa. Kita adalah bangsa besar. Kita telah melewati berbagai krisis politik, ekonomi, bahkan ancaman disintegrasi. Dan kita selalu berhasil bertahan karena satu hal persatuan. Jangan biarkan titik api yang disulut oleh segelintir pihak ini membakar rumah besar kita bersama.
Waspada bukan berarti takut. Waspada adalah bentuk kecintaan. Saling mengingatkan bukan berarti mencurigai. Itu adalah bentuk kepedulian. Dan percaya pada proses bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Itu adalah bentuk kedewasaan sebagai bangsa. Jika kita mampu menjaga itu semua, maka sebesar apapun desain instabilitas yang dirancang, ia tidak akan pernah berhasil. Karena pada akhirnya, kekuatan terbesar Indonesia bukan pada pemerintahnya, bukan pada militernya, tetapi pada rakyatnya yang sadar, kritis, dan tidak mudah dipecah belah. .Dan hari ini, kesadaran itu sedang diuji.
