
MERAWAT BARISAN INTI YANG TAK TERCATAT
Opini Indria Febriansyah
Kemenangan Prabowo Subianto pada 2024 bukan semata hasil kerja mesin partai dan koalisi formal. Ada barisan sunyi yang sejak lama berdiri, bergerak, dan membela tanpa kartu anggota, tanpa SK struktural, tanpa tercatat sebagai sayap resmi partai.
Mereka independen.
Mereka mandiri.
Mereka ideologis.
Salah satu contoh adalah Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia jejaring nasionalis-kerakyatan yang sejak awal konsisten mendukung kepemimpinan Prabowo sebagai figur kebangsaan, bukan sekadar kandidat elektoral. Barisan seperti ini tidak lahir karena transaksi politik. Mereka lahir karena keyakinan nilai.
Barisan Inti yang Tidak Administratif, Tetapi Ideologis Dalam peta dukungan politik, sering kali yang terlihat adalah struktur formal partai, sayap pemuda, relawan terdaftar.
Namun ada kekuatan lain yang lebih subtil Komunitas intelektual. Jaringan sosial-kultural.
Aktivis ekonomi rakyat.
Organisasi independen yang tidak mau tersubordinasi oleh kepentingan partai. Mereka tidak menuntut jabatan. Mereka menuntut arah kebijakan. Mereka mendukung Prabowo karena nasionalismenya, karena komitmen pada kedaulatan ekonomi, karena keberpihakan pada rakyat kecil bukan karena janji posisi.
Mengapa Mereka Penting?
Dalam dinamika politik pasca kemenangan, fokus sering tertuju pada koalisi besar dan figur yang baru bergabung. Sementara barisan lama yang independen kadang terabaikan karena tidak “terdata” secara administratif. Padahal justru kelompok inilah yang Bertahan saat elektabilitas rendah. Membela saat serangan politik masif. Konsisten saat kompromi 2019 terjadi. Mereka tidak goyah saat situasi sulit. Mereka bukan migran politik. Jika eks pendukung Jokowi memberi volume suara, dan basis Gerindra memberi struktur, maka barisan independen memberi legitimasi moral.
Risiko Jika Diabaikan
Kekecewaan barisan inti bukan selalu dalam bentuk oposisi terbuka. Ia bisa menjadi Keheningan politik. Menurunnya militansi sosial. Berkurangnya pembelaan narasi di ruang publik. Dalam politik modern, kehilangan energi moral jauh lebih berbahaya daripada kehilangan satu kursi komisaris. Karena energi moral adalah penjaga reputasi jangka panjang.
Presiden Perlu Melihat Lebih Luas dari Struktur
Sebagai figur nasionalis, Presiden Prabowo tidak hanya berdiri di atas partai. Ia berdiri di atas simpul-simpul kebangsaan. Barisan independen seperti Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia dan jaringan sejenis bukan kompetitor partai. Mereka adalah penguat ekosistem nasionalisme. Yang dibutuhkan bukan pembagian jabatan, tetapi
Ruang dialog rutin. Pengakuan kontribusi. Pelibatan dalam gagasan strategis kebangsaan. Sinergi program ekonomi rakyat. Karena dukungan ideologis tidak bisa dibeli, tetapi bisa dirawat.
2029 Fondasi Lebih Penting dari Euforia
Jika kemenangan 2024 lahir dari koalisi luas, maka stabilitas menuju 2029 bergantung pada soliditas fondasi. Eks migran politik bisa berubah arah. Struktur partai bisa mengalami dinamika internal. Elite bisa bernegosiasi ulang. Tetapi barisan ideologis yang independen jika dirawat akan tetap menjadi benteng.
Dalam pandangan saya, kepemimpinan besar bukan hanya tentang merangkul yang datang belakangan. Tetapi tentang menghargai yang setia sejak awal, meski tidak tercatat dalam administrasi.
Politik kebangsaan tidak boleh hanya menjadi ruang transaksi. Ia harus menjadi ruang nilai. Presiden Prabowo adalah figur nasionalis. Dan figur nasionalis membutuhkan barisan yang percaya pada gagasan, bukan sekadar jabatan. Barisan inti yang independen mungkin tidak memiliki kartu anggota. Tetapi mereka memiliki komitmen. Dan dalam sejarah bangsa, komitmen jauh lebih mahal daripada kursi.
